YFCC’s Corner

Internasional Youth Forum on Climate Change and Sustainability Development

IMG_7004

(Jakarta, 5/06/16) Dalam rangka menyikapi isu perubahan iklim yang makin global, Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bekerja sama dengan Youth for Climate Change (YFCC) Indonesia, Beyond Asean, dan Asean Reusable Bag Campaign (ARBC) guna mengadakan event International Youth Forum on Climate Change and Sustainable Development. Acara yang mengusung tema “Catalyze Youth Action on Environmental and Sustainable Issues” dilaksanakan pada 3-5 Juni 2016 di Hotel Aston Marina, Ancol, Jakarta.

Kemenpora beserta ketiga partnership (YFCC Indonesia, Beyond Asean, ARBC) berharap kegiatan ini akan mendorong lahirnya berbagai upaya dalam menghadapi perubahan iklim dengan melibatkan pemikiran dari generasi muda antar bangsa.

“Kami sangat berharap forum ini dapat menyediakan platform dalam mendorong perubahan positif untuk diri kita sendiri, untuk organisasi perwakilan, dan yang paling penting adalah untuk memberikan kembali kepada masyarakat dan lingkungan,” kata Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga Bidang Kerja sama Kelembagaan, Adiati Noerdin, dalam sambutannya pada Forum Pemuda Internasional, Jakarta, Jumat, 3 Juni 2016.

Selain itu, Adiati Nurdin juga berharap dari 92 peserta lintas mancanegara yang terlibat dalam forum, dapat memformulasikan rencana kerja yang jelas untuk mencapai semua target yang dibuat terkait perubahan iklim dan pembangunan berkelanjutan.

Kegiatan ini dimulai pada hari Jumat, 3 Juni 2016 dan dibuka langsung oleh Staf Ahli Menteri Pemuda dan Olahraga, Bidang Kerja sama Kelembagaan, Adiati Noerdin. Selain sesi seminar tentang perubahan iklim yang disampaikan lembaga pemerintahan, lembaga non-pemerintahan, dan para pemuda dari berbagai komunitas lingkungan, pada hari kedua peserta diajak untuk mengunjungi Pulau Pramuka. Di sana peserta diajak untuk mengunjungi penangkaran penyu sisik, menanam lamun dan bibit mangrove, serta sweeping sampah di sekitaran kawasan rumah warga dan sepanjang pantai..

Di hari terakhir dari rangkaian kegiatan, terpilih Wahyu Tri Baharsyah (Universitas Hasanudin Makassar) sebagai ketua angkatan dari Eco Youth Corps, sebuah inisiasi pemuda peduli perubahan iklim yang digagas oleh Kemenpora melalui acara ini. Kedepannya, Eco Youth Corps ini akan bergerak dan bersinergi bersama komunitas lain di bidang perubahan iklim (seperti YFCC Indonesia) guna mengkampanyekan dan melakukan proses mitigasi perubahan iklim agar fenomena perubahan iklim di dunia, khususnya di Indonesia dapat terminimalisir.

 

Advertisements

Dampak Perubahan Iklim di Dunia

(Ahad, 8 Mei 2016) YFCC Indonesia kembali mengadakan ACER (Ahad Cerdas) yang merupakan program mingguan yang diadakan secara online setiap hari minggu malam. ACER merupakan salah satu program kerja unggulan dari Divisi KASRAT (Kajian dan Riset Strategis) YFCC Indonesia. Pada kesempatan kali ini tema yang diusung dalam ACER adalah Dampak Perubahan Iklim di Dunia.

Topik ini berhasil menarik perhatian Anggota YFCC Indonesia untuk gabung berdiskusi.

“Perlu kita ketahui dampak Perubahan Iklim Selama ini yang sering Terjadi adalah.. penyebaran air didunia yang tidak merata, adanya peningkatan prisipitasi pada beberapa dekade terakhir telah diamati di bagian Timur dari Amerika Selatan dan Utara” begitu kata faninda selaku moderator Acer malam itu.

pembukaan ini membuat anak anak YFCC indonesia makin penasaran dengan topik yang dibahas oleh Tim Kajian Strategis YFCC ini

Acer ini berlangsung cukup lama dan akhir nya menarik garis besar yaitu.. “Dampak perubahan terjadi di berbagai belahan negara/benua dengan ciri khas yg berbeda, seperti penyebaran air yg tidak merata. Tutupan salju makin hari terus berkurang, begitu jg dgn gletser yg terus mencair. Negara-negara yang memancarkan GRK tertinggi, ironisnya adalah yang paling rendah terdampak perubahan iklim, seperti peningkatan frekuensi bencana alam, perubahan habitat, dampak kesehatan manusia, dan stres industri. Sedangkan negara-negara yang memancarkan sedikit jumlah GRK justru paling rentan. Beberapa daerah rentan terkena dampak perubahan iklim juga  karena kondisi kesehatan, masyarakat, dan sosiopolitiknya. Hal ini yg menjadi concern buat kita semua untuk mengurangi dampak perubahan iklim, khususnya bagi negeri kita sendiri.”

Jadi ubahlah kebiasaanmu sebelum iklim mengubahmu !

Individual Solutions for Climate Change Campaigns

As one of the organizations that support the annual activities of the Indonesia Climate Change Education Forum and Expo (ICCEFE), The Climate Reality Project Indonesia focused on “Individual Solutions to Climate Change.” We did not just provide climate change information and explain about our activities, but also invited visitors to think about changing their habits to address climate change.

Ideally, each individual must be able to respond to climate change by doing a few simple things like consume local food, save energy, use a tumbler, and bring a bag when shopping to avoid plastic bags.

We invited several organizations to exhibit in our booth based on their unique and creative actions on the ground.

Eco Learning Camp Foundation
The Eco Learning Camp Foundation was established to develop educational activities, conservation, research, community development, and a variety of other creativity-based activities.

The Foundation has non-formal education programs delivered through nature and environmental discourses integrated with knowledge about the relevant science and culture to raise awareness that leads to active participation to protect nature and its environment.

In addition to explaining the camp’s programs to ICCEFE visitors, youth volunteers from the Eco Learning Camp described Neem trees (Azadirachta indica), their products, and health benefits.  Visitors could bring home Neem seeds and seedlings to grow at home.

Indonesia Vegetarian Society
The Indonesia Vegetarian Society disseminates information about the bona fide purpose of vegetarian life in Indonesia as well as develops universal love and save the life of the world through vegetarianism.

The Society invited ICCEFE visitors to get to know vegetarian lifestyle and the benefits of being vegetarian through books and food products such as grains and cereals made from tempeh.

According to a new study by Oxford University, by eating less meat and more fruit and vegetables, the world could prevent several million deaths per year by 2050, cut planet-warming emissions substantially, and save billions of dollars annually in healthcare costs and climate damage.

Clean Water For Napu Village
UNDP Indonesia and KOPPESDA, a local NGO, is working to support 500 people in Napu Village, East Sumba, East Nusa Tenggara to gain access to clean water. A crowd funding is expected  to raise funds to build a solar water pump so that water will be available in the remote village.

To support the worthy cause, UNDP gave a short video presentation and invited visitors to leave little notes related to clean water campaign, and donate through KitaBisa.

Reza Rahadian, a famous Indonesian actor who is one of Indonesia’s SDG Movers went on stage talking about the campaign and drew a lot of attention and press coverage.

ASEAN Reusable Bag Campaign
The ASEAN Reusable Bag Campaign is an ongoing project in Indonesia, Malaysia, and the Philippines, encouraging people to reduce the use of disposable plastic bag and change it with reusable bag to preserve the environment.
The campaign team encouraged visitors to reduce the use of plastic bags by showing a short video presentation and unique folded bags with different shapes and colors that can be used as a substitute for plastic bags.

This is a worthy campaign as the world’s oceans and marine life are suffering from a devastating plastic crisis, with 8 million metric tons of plastic waste dumped into the oceans every year.

D’Anggraini Handmade Soap
D’Anggraini exhibited handmade soap bars produced by using environmentally friendly materials both in the production of soap bars and the packaging materials.

“I Mix You Like Crazy” is a unique soap bar crafted especially for the ICCEFE and made from honey, oatmeal, coffee, activated charcoal and green tea (matcha). An unscented Apple Cider Vinegar Shampoo Bar is made from apple cider vinegar canola oil, sunflower oil, coconut oil, cocoa butter, castor oil, and olive oil.
Dewi Anggraini, the micro business owner, explained to ICCEFE visitors the ingredients of the soaps, how to make the bars, as well as the benefits of using environmentally and skin friendly products.

***
At the end of the Indonesia Climate Change Education Fourm and Expo, thousands of people, including school children, had visited The Climate Reality Project Indonesia booth.  The event reminded us of what David Suzuki, a Canadian environmentalist, said:  “The choices we make in our day-to-day life — how we get around, what we eat, how we live — play a major role in slowing climate change.”

Text: Dian Anggraini
Images: The Climate Reality Project Indonesia

Sumber : http://www.climatereality.or.id/news–events/individual-solutions-for-climate-change-campaigns

Inspirations for Acts of Leadership

UN

Pembangunan Kota di Indonesia Harus Rendah Emisi Karbon

20160416013811 (3)

Pemerintah kota dan pihak nonpemerintah lainnya hadir dalam seminar bahas pembangunan kota yang rendah emisi karbon

Jakarta, 14 April 2016 – Sebagai tindak lanjut Kesepakatan Paris yang merupakan hasil perundingan global perubahan iklim Conference of Parties ke-21 (COP21) di Paris tahun 2015 kemarin, hari ini berbagai pihak terkait pembangunan perkotaan di Indonesia menghadiri seminar untuk membahas tentang dampak perubahan iklim bagi perkotaan dan solusi yang dapat dilakukan untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari kegiatan perkotaan.

Seminar yang berjudul “Membangun Kota Rendah Emisi Karbon, Berketahanan Iklim, dan Komunitas Berkelanjutan” ini diselenggarakan oleh Kantor Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim (UKP-PPI) yang termasuk dalam rangkaian acara Indonesia Climate Change Education Forum and Expo di Jakarta Convention Center sejak hari Kamis hingga Minggu (14-17 April 2016).

Seminar tersebut dihadiri oleh peserta dari kalangan pemerintah daerah dan kota seluruh Indonesia, pelaku usaha baik BUMN maupun swasta nasional, akademisi, peneliti perkotaan, Lembaga Swadaya Masyarakat, dan komunitas pemuda.

Rachmat Witoelar, Utusan Khusus Presiden untuk Pengendalian Perubahan Iklim yang menyampaikan keynote speech dalam seminar tersebut mengatakan bahwa, “Emisi gas rumah kaca yang dihasilkan kota-kota di Indonesia itu sangat besar, terutama berasal dari aktivitas transportasi, pemakaian energi di gedung dan rumah, serta sampah. Hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama, karena tingkat urbanisasi di Indonesia dan jumlah penduduk yang tinggal di kota juga tinggi. Oleh karena itu, pembangunan perkotaan di Indonesia harus berubah menuju kota yang rendah emisi karbon. Selain itu, pembangunan kota juga harus mengantisipasi dampak perubahan iklim, sehingga masyarakat kota dapat hidup dengan nyaman. Hal ini harus menjadi PR kita semua dan bukan hanya tugas pemerintah semata”.

Bima Arya, Wali Kota Bogor yang merupakan salah satu pembicara, menyampaikan tentang upaya Kota Bogor untuk menjadi kota yang hijau. “Mewujudkan kota Bogor yang hijau merupakan misi suci masyarakat Bogor. Kami ingin agar Kota Bogor bisa kembali dikenal seperti dulu yang merupakan kota paling hijau di dunia bagian timur. Kami belajar bahwa sebenarnya yang paling penting dan paling menantang adalah membangun kultur masyarakat. Meskipun sudah dibangun pedestrian dan sistem transportasi umum yang bagus tapi kalau warganya tidak mau jalan ya tidak akan berhasil. Untungnya, komunitas yang peduli lingkungan di Bogor sangat banyak dan mereka sangat membantu pemerintah Kota Bogor untuk mengubah kultur masyarakat. Kami ingin agar pembangunan kota yang rendah emisi karbon bisa dilakukan dimulai dari masyarakat dengan model bottom-up.”

Seminar ini juga mengangkat pentingnya perencanaan yang matang dan koordinasi di tingkat pusat agar pembangunan perkotaan dapat berjalan dengan emisi karbon yang rendah. Terdapat juga pembicara dari perwakilan swasta yang memaparkan aksi maupun solusi yang dapat dilaksanakan untuk tingkat pengembang dan perkotaan.

Seminar ini merupakan awal dari rangkaian kegiatan Kantor UKP-PPI untuk melibatkan dan meningkatkan peran serta berbagai pihak dalam perkotaan. Beberapa agenda untuk diskusi dan seminar di kota-kota lain juga akan dilakukan dengan tujuan untuk lebih mengarusutamakan pembicaraan mengenai kota yang rendah emisi karbon, berketahanan iklim, dan komunitas yang berkelanjutan.